“Bapak, aku ingin
melanjutkan sekolah dikota..” kata anak yang bernama Layla.
“janganlah dulu, Bapak
belum punya cukup uang. Nanti saja ya, lebih baik kamu membantu perekomomian
keluarga” kata ayahnya setengah meminta.
“ayah tak usah khawatir
tentang biaya, aku mempunyai uang tabungan, keuntungan saat saya menjual pupuk
kompos. Itupun tidak seberapa, tapi masih bisa melanjutka sekolah. Bapak, aku
mohon.” Kata gadis itu sambil menunduk.
“ya sudah, nanti bapak
pertimbangkan. Sekarang kamu pergi bantu ibumu dulu sana di dapur.” Sambung bapak mempertimbangkan hal tersebut.
Ya
Tuhan, semoga bapak setuju dengan hal
ini. Batinku dalam hati.
“giimana sama bapakmu?
Apakah dia sudah menyetujinya?” kata ibu penasaran.
“masih dipertimbangkan,
kata bapak lebiih baik bantu perekonomian keluarga”
“lah ibu bilang juga
apa, iiya kan? Bapakmu Cuma bisa berharap padamu, ibu mengerti perasaanmu tapi
kamu adalah tulang punggung keluarga nak.” Kata ibu mengelus kepalaku dengan
lembut.
Tidak terasa, malampun
menjelang. Layla manikmati pemandangan indah di desaku ini sambil berharap
bapak nya menyetujui hal itu. Aku
mencintai keluargaku, tapi aku butuh pendidikan.
“POKOKNYA AKU AKAN
BERUSAHA DENGAN BERBAGAI CARA, AGAR BAPAK MENGIZINKANKU. AKU TIDAK AKAN
MENYERAH” duaaaar, pagi-pagi terdengar bunyi pintu yang ditutup ndengan kasar
sekali.
Pagi-pagi sekali, ia
sedang kesal dengan hasil keputusan bapaknya, yang sangat “tidak setuju” dengan
hal itu.
Setelah berpikir dengan
keras, ia akan tetap melanjutkan sekolah walau hanya bermodalkan uang
RP1.000.000,- hasil kerja kerasnya.
Akhirnya ia kabur dari
rumah, dan segera pergi ke stasiun kereta api. Ia membayar uang tiket
RP75.000,-. Berarti sisa uangnya tinggal RP925.000,-
***
Dengan niat setekat
itu, ia tetap akan menjalankan prinsipnya bahwa semua orang berhak belajar.
Tibanya ia dikota, ia malanjutkan perjalanan Universitas Negeri Malang dengan
menaiki becak seadanya.
Setibanya ia di UNEM,
ia membayar ojek sekitar RP8.000,- uang bersisa RP917.000,- syukur saja pendaftarannya masih terbuka
berarti masih ada harapan untuk melanjutkan sekolah. Setelah semuanya beres, ia
berjalan kaki mencari tumah kos yang murah. ia mendapatkan kos, di depan UNEM
lalu ia membayar uang kos sebesar RP30.000,- dengan bayar uang makan RP3.000,-.
(uang besisa RP615.000,)
Saat sedang
berbaring-baring dikasur, ia teringat akan bapak dan ibunya. ia juga sedikit
merasa bersalah. Ia semakin bersemangat melanjutkan sekolah dan membuktikannya
pada bapaknya.
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar