Hai... Selamat Datang di Blog saya. Terima Kasih sudah membuka Blog Saya. Semoga kalian semua senang membuka Blog saya

Rabu, 21 Maret 2012

Perjuangan Hidup


“Bapak, aku ingin melanjutkan sekolah dikota..” kata anak yang bernama Layla.
“janganlah dulu, Bapak belum punya cukup uang. Nanti saja ya, lebih baik kamu membantu perekomomian keluarga” kata ayahnya setengah meminta.
“ayah tak usah khawatir tentang biaya, aku mempunyai uang tabungan, keuntungan saat saya menjual pupuk kompos. Itupun tidak seberapa, tapi masih bisa melanjutka sekolah. Bapak, aku mohon.” Kata gadis itu sambil menunduk.
“ya sudah, nanti bapak pertimbangkan. Sekarang kamu pergi bantu ibumu dulu sana di dapur.”  Sambung bapak mempertimbangkan hal tersebut.
Ya Tuhan, semoga bapak setuju dengan hal ini. Batinku dalam hati.
“giimana sama bapakmu? Apakah dia sudah menyetujinya?” kata ibu penasaran.
“masih dipertimbangkan, kata bapak lebiih baik bantu perekonomian keluarga”
“lah ibu bilang juga apa, iiya kan? Bapakmu Cuma bisa berharap padamu, ibu mengerti perasaanmu tapi kamu adalah tulang punggung keluarga nak.” Kata ibu mengelus kepalaku dengan lembut.
Tidak terasa, malampun menjelang. Layla manikmati pemandangan indah di desaku ini sambil berharap bapak nya menyetujui hal itu. Aku mencintai keluargaku, tapi aku butuh pendidikan.
“POKOKNYA AKU AKAN BERUSAHA DENGAN BERBAGAI CARA, AGAR BAPAK MENGIZINKANKU. AKU TIDAK AKAN MENYERAH” duaaaar, pagi-pagi terdengar bunyi pintu yang ditutup ndengan kasar sekali.
Pagi-pagi sekali, ia sedang kesal dengan hasil keputusan bapaknya, yang sangat “tidak setuju” dengan hal itu.
Setelah berpikir dengan keras, ia akan tetap melanjutkan sekolah walau hanya bermodalkan uang RP1.000.000,- hasil kerja kerasnya.
Akhirnya ia kabur dari rumah, dan segera pergi ke stasiun kereta api. Ia membayar uang tiket RP75.000,-. Berarti sisa uangnya tinggal RP925.000,- 
***
Dengan niat setekat itu, ia tetap akan menjalankan prinsipnya bahwa semua orang berhak belajar. Tibanya ia dikota, ia malanjutkan perjalanan Universitas Negeri Malang dengan menaiki becak seadanya.

Setibanya ia di UNEM, ia membayar ojek sekitar RP8.000,- uang bersisa RP917.000,-  syukur saja pendaftarannya masih terbuka berarti masih ada harapan untuk melanjutkan sekolah. Setelah semuanya beres, ia berjalan kaki mencari tumah kos yang murah. ia mendapatkan kos, di depan UNEM lalu ia membayar uang kos sebesar RP30.000,- dengan bayar uang makan RP3.000,-. (uang besisa RP615.000,)
Saat sedang berbaring-baring dikasur, ia teringat akan bapak dan ibunya. ia juga sedikit merasa bersalah. Ia semakin bersemangat melanjutkan sekolah dan membuktikannya pada bapaknya.



bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar